Sabtu, 11 November 2017

Perilaku Etika Dalam Bisnis



BAB I
PENDAHULUAN
      1.1.      Latar Belakang
Perkembangan bisnis pada zaman modern sekarang ini semakin maju saja, oleh karena itu memberikan dampak yang cukup berpengaruh terhadap semakin ketatnya persaingan antar pebisnis dalam berskala besar ataupun berskala kecil. Pada dasarnya menjalankan bisnis adalah untuk menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan tujuan utamanya untuk memperoleh laba semaksimal mungkin.
            Dalam era globalisasi sekarang ini, para pebisnis dituntut untuk menghasilkan produk yang berkualitas namun dengan harga jual yang terjangkau agar dapat diterima konsumen sehingga produk yang dihasilkan semakin dikenal masyarakat. Jika penilaian konsumen terhadap produk yang dihasilkan baik, maka produk tersebut dapat bertahan. Namun sebaliknya jika penilaian konsumen terhadap produk rendah, maka produk yang dihasilkan tidak akan diterima dipasar.
            Pebisnis yang baik adalah mereka yang mampu menjalankan bisnisnya dengan cara yang sesuai atau baik. Sayangnya, pada zaman sekarang ini ada segelinitr oknum pebisnis yang menjalankan bisnisnya dengan tidak baik, mereka tidak mementingkan apakah konsumen puas dengan produknya melainkan hanya mementingkan laba yang di dapat. Oleh karena itulah, perilaku etika dalam bisnis harus dimiliki oleh setiap orang yang akan menjalankan bisnisnya.
Tanpa disadari, kasus pelanggaran etika bisnis merupakan hal yang biasa dan wajar pada masa kini. Secara tidak sadar, kita sebenarnya menyaksikan banyak pelanggaran etika bisnis dalam kegiatan berbisnis di Indonesia. Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Berbagai hal tersebut merupakan bentuk dari persaingan yang tidak sehat oleh para pebisnis yang ingin menguasai pasar.


BAB II
PEMBAHASAN
Perilaku etis dalam kegiatan berbisnis adalah sesuatu yang penting demi kelangsungan hidup bisnis itu sendiri. Bisnis yang tidak etis akan merugikan bisnis itu sendiri terutama jika dilihat dari perspektif jangka panjang. Bisnis yang baik bukan saja bisnis yang menguntungkan, tetapi bisnis yang baik adalah selain bisnis tersebut menguntungkan juga bisnis yang baik secara moral.
Banyak hal yang berhubungan dengan pelanggaran etika bisnis yang sering dilakukan oleh para pebisnis yang tidak bertanggung jawab di Indonesia. Praktek bisnis yang terjadi selama ini dinilai masih cenderung mengabaikan etika, rasa keadilan dan kerapkali diwarnai praktek-praktek tidak terpuji atau moral hazard.
 2.1.      Pengertian bisnis
Berikut ini ada beberapa pengertian bisnis menurut para ahli.
1.      Allan afuah (2004) : Bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dana menjual barang ataupun jasa agar mendapatkan keuntungan dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat dan ada di dalam industri.
2.      Grifin dan ebert : Bisnis adalah suatu organisasi yang mennyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan.
3.      Boone dan kurtz (2002;8) : Bisnis adalah semua aktivitas-aktivitas yang bertujuan mencari laba dan perusahaan yag meghasilkan barang serta jasa yang dibutuhkan oleh sebuah sistem ekonomi
Dari pengertian beberapa ahli diatas saya dapat menyimpulkan bahwa bisnis adalah suatu kegiatan yang dilakukan baik itu secara individu ataupun berkelompok secara terorganisir yang menghasilkan barang ataupun jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat dengan tujuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan.
                              2.2.      Pengertian etika dalam bisnis
Etika bisnis adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan cara melakukan kegiatan bisnis yang mencakup seluruh aspek yang masih berkaitan dengan personal, perusahaan ataupun masyarakat. atau bisa juga diartikan pengetahuan tentang tata cara ideal dalam pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal secara ekonomi maupun sosial.
 2.3.      Prinsip etika bisnis
Dalam berbisnis tentu saja terdapat beberapa prinsip yang harus dijalankan oleh setiap pebisnis. Etika sangat penting untuk menunjukkan kepada investor ataupun konsumen mengenai nama baik dan keseriusan dari pebisnis tersebut. Berikut merupakan 4 prinsip dalam etika bisnis :
1.      Prinsip Otonomi
Prinsip otonomi etika bisnis perusahaan bebas memiliki kewenangan sesuai dengan bidang yang telah dikuasai sesuai dengan visi dan misi perusahaan tersebut. Maksudnya adalah, perusahaan tidak boleh bergantung pada perusahaan lainnya secara penuh atau keseluruhan dan yang paling penting adalah dalam hal pengambilan keputusan. Perusahaan harus konsisten terhadap visi dan misi yang sudah dibuat sejak awal dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk perusahaan. Dalam menjalankan prinsip otonomi ini 2 perusahaan atau lebih bisa berkomitmen dalam menjalankan etika bisnis ini, namun masing-masing perusahaan dimungkinkan untuk mengambil pendekatan yang berbeda-beda dalam menjalankanya. Sebab masing-masing perusahaan memiliki kondisi karakter internal dan strategi yang berbeda dalam mencapai tujuan serta visi misi dari perusahaan tersebut.
2.      Prinsip Kejujuran
Kejujuran adalah suatu sikap yang wajib dimiliki oleh setiap orang khususnya dalam pembahasan ini adalah kejujuran dalam menjalankan bisnis. Prinsip kejujuran ini adalah hal yang sangat mendasar dalam mendukung keberhasilan kinerja dalam perusahaan. Jika prinsip ini dapat dipegang dan dijalankan oleh setiap orang yang berada dalam organisasi perusahaan, maka perusahaan akan dapat mempertahankan kelangsungan bisnis yang dijalankannya.
3.      Prinsip Keadilan
Dalam menerapakan prinsip keadilan semua pihak yang terkait dalam bisnis harus memberikan kontribusi baik itu secara langsung atau tidak langsung terhadap keberhasilan bisnis. Oleh karena itu semua pihak harus memiliki akses yang positif sesuai dengan kemampuan dan peran yang sudah diberikan kepada masing-masing terhadap keberhasilan bisnis ini. Contoh prinsip keadilan dalam etika bisnis seperti alokasi sumber daya ekonomi kepada semua pemilikfaktor ekonomi. Hal ini bisa dilakukan dengan membuat kesepakatan tentang harga konsumen dan juga harga pemasok bahan baku serta alat-alat produksi. Keadilan disini juga dapat diterapkan terhadap pemberian gaji dalam perusahaan. Seorang yang memiliki kinerja sangat baik haruslah diberi apresiasi lebih sehingga tidak sama dengan pegawai yang kinerjanya biasa biasa saja atau bahkan tidak bagus.


4.      Prinsip Hormat Pada Diri Sendiri
Rasa hormat harus kita miliki dalam menjalankan bisnis, tetapi hormat disini bukan hanya kepada orang lain tetapi juga terhadap diri sendiri. Prinsip ini akan memberikan dampak pada bisnis itu sendiri. Dalam menjalankan bisnis masyarakat sebagai konsumen merupakan cerminan bagi bisnis kita. Bila bisnis kita memberikan kontribusi yang positif kepada masyarakat tentu itu akan berdampak positif dengan bisnis yang kita jalankan dan begitu juga sebaliknya. Sebagai pengelola perusahaan sudah menjadi kewajiban untuk memberikan respek kepada siapapun yang terlibat dalam aktivitas bisnis. Dengan demikian pasti semua pihak akan memberikan respek yang sama terhadap perusahaan yang kita kelola. Sebagai contoh prinsip menghormati diri sendiri dalam etika bisnis: Manajemen perusahaan dengan team work-nya memiliki sistem kerja yang berorientasi kepada pelanggan akan makin fanatik terhadap perusahaan. Demikian juga, jika sistem manajemen berorientasi pada pemberian kepuasan kepada karyawan yang berprestasi karena sepadan dengan prestasinya maka dapat dipastikan karyawan akan makin loyal terhadap perusahaan.
               2.4.      Pendekatan etika bisnis
Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :
1.      Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
2.      Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
3.      Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.
               2.5.      Faktor-faktor pelanggaran etika bisnis
Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pebisnis dilatarbelakangi oleh berbagai hal. Salah satu hal tersebut adalah untuk mencapai keuntungan yang sebanyak-banyaknya, tanpa memikirkan dampak buruk yang terjadi selanjutnya.
Faktor lain yang membuat pebisnis melakukan pelanggaran antara lain :
1.      Banyaknya kompetitor baru dengan produk mereka yang lebih menarik.
Dalam dunia bisnis semua orang memiliki hak untuk berinovasi dan menjalankan bisnis dalam bidang apapun. Hal ini membuat banyak sekali berbagai macam jenis usaha yang sejenis atau bisa dibilang sama persis usahanya. Perusahaan yang menjadi pelopor tentu saja akan merasa tersaingi dan mulai gelisah ketika adanya produk yang sejenis dan justru malah bisa lebih menarik dan lebih baik. Factor inilah yang dapat membuat pebisnis melakukan hal diluar dugaan dengan melakukan strategi yang tidak baik untuk menjatuhkan kompetitornya tersebut.


2.      Ingin menambah pangsa pasar
Ketika sebuah bisnis sudah mencapai tahap puncaknya, tentu saja pebisnis tersebut tidak akan merasa puas. Seorang pebisnis yang handal akan membuat strategi baru untuk memperluas pasarnya dan memperkenalkan produk lebih jauh lagi. Jika dalam proses perluasan pasar perushaan menemui jalan buntu, disitulah terkadang etika bisnis dilanggar.
3.      Ingin menguasai pasar
Salah satu cara seorang pebisnis untuk menguasai pasar adalah dengan melakukan ekspansi perusahaan seluas luasnya. Hal ini tentu diperbolehkan namun saja terkadang ada etika bisnis yang dilanggar misalnya, mengenai izin usaha ditempat ekspansi. Ekspansi yang terlalu berlebihan juga menurut saya sangat tidak baik. Kita bisa melihat disekitar kita sekarang ini banyak sekali swalayan yang menyebar ke segala penjuru kota, desa bahkan ke kampung kampung. Apakah ini tidak melanggar aturan? Menurut saya iya, karena dalam hal ini lama kelamaan dapat meruntuhkan usaha tradisional yang sudah ada terlebih dahulu.
Dari ketiga faktor tersebut, faktor pertama adalah faktor yang memiliki pengaruh paling kuat. Untuk mempertahankan produk perusahaan tetap menjadi yang utama, dibuatlah iklan dengan sindiran-sindiran pada produk lain. Iklan dibuat hanya untuk mengunggulkann produk sendiri, tanpa ada keunggulan dari produk tersebut. Iklan hanya bertujuan untuk menjelek-jelekkan produk iklan lain.
               2.6.      Beberapa kasus pelanggaran etika bisnis di Indonesia
Di bidang keuangan, banyak perusahaan-perusahaan yang melakukan pelanggaran etika. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Erni Rusyani, terungkap bahwa hampir 61.9% dari 21 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ tidak lengkap dalam menyampaikan laporan keuangannya (not available). Contoh kasus pelanggaran etika bisnis antara lain:
1.      Kasus pelezat masakan merek ”A”. Kehalalan “A” dipersoalkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada akhir Desember 2000 setelah ditemukan bahwa pengembangan bakteri untuk proses fermentasi tetes tebu (molase), mengandung bactosoytone (nutrisi untuk pertumbuhan bakteri), yang merupakan hasil hidrolisa enzim kedelai terhadap biokatalisator porcine yang berasal dari pankreas babi.
2.      Kasus lainnya, adalah produk minuman berenergi yang sebagian produknya diduga mengandung nikotin lebih dari batas yang diizinkan oleh Badan Pengawas Obat dan Minuman. Kita juga masih ingat, obat anti-nyamuk “H” yang dilarang beredar karena mengandung bahan berbahaya.
3.      Pada kasus lain, suatu perusahaan di kawasan di Kalimantan melakukan sayembara untuk memburu hewan Pongo. Hal ini dilakukan untuk menghilangkan habitat hewan tersebut untuk digunakan sebagai lahan perkebunan sawit. Hal ini merupakan masalah bagi pemerintah dan dunia usaha, dimana suatu usaha dituntut untuk tetap melestarikan alam berdampingan dengan kegiatan usahanya.
4.      Pelanggaran juga dilakukan oleh suatu perusahaan di kawasan Jawa Barat. Perusahaan tersebut membuang limbah kawat dengan cara membakar kawat tersebut tersebut. Hal ini menyebabkan asap hitam pekat yang membuat orang mengalami sesak napas dan pusing saat menghirupnya. Perusahaan tersebut disinyalir tidak melakukan penyaringan udara saat pembakaran berlangsung. Hal ini dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat sekitar yang berdekatan dengan lokasi pabrik tersebut.
5.      Sebuah perusahaan PJTKI di Yogyakarta melakukan rekrutmen untuk tenaga baby sitter. Dalam pengumuman dan perjanjian dinyatakan bahwa perusahaan berjanji akan mengirimkan calon TKI setelah 2 bulan mengikuti training dijanjikan akan dikirim ke negara-negara tujuan. Bahkan perusahaan tersebut menjanjikan bahwa segala biaya yang dikeluarkan pelamar akan dikembalikan jika mereka tidak jadi berangkat ke negara tujuan. B yang tertarik dengan tawaran tersebut langsung mendaftar dan mengeluarkan biaya sebanyak Rp 7 juta untuk ongkos administrasi dan pengurusan visa dan paspor. Namun setelah 2 bulan training, B tak kunjung diberangkatkan, bahkan hingga satu tahun tidak ada kejelasan. Ketika dikonfirmasi, perusahaan PJTKI itu selalu berkilah ada penundaan, begitu seterusnya. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa Perusahaan PJTKI tersebut telah melanggar prinsip pertanggungjawaban dengan mengabaikan hak-hak B sebagai calon TKI yang seharusnya diberangkatkan ke negara lain tujuan untuk bekerja.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1  Kesimpulan
Dalam penulisan ini dapat disimpulkan bahwa ada perusahaan yang menjalankan etika bisnisnya dengan baik dan ada juga yang tidak menjalankan etika bisnisnya sehingga banyak melakukan pelanggaran.
Beberapa faktor yang menyebabkan pelanggaran etika bisnis diantaranya yaitu banyaknya kompetitor baru dengan produk mereka yang lebih menarik, inginnya produsen menambah pangsa pasar dan keinginan produsen menguasai pasar.
3.2  Saran
Dalam penulisan ini penulis memberikan saran yaitu dalam bisnis harus memegang prinsip prinsip etika dalam berbisnis yang baik dan harus menyadari bahwa dalam melakukan bisnis bukan hanya berbicara mengenai keuntungan semata tetapi juga tentang kepuasan konsumen. Seorang pebisnis harus memiliki tanggung jawab yang besar kepada pelanggan, karyawan, investor, dan masyarakat. Selain itu pemerintah harus membentuk badan pengawas untuk mengawasi dan memberikan hukuman kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran dalam etika bisnis.




Sumber:
http://bisnisi.com/10-contoh-etika-bisnis-yang-wajib-dimiliki-oleh-pebisnis/
http://sarungpreneur.com/teori-dan-pengertian-etika-bisnis/
http://rizkiafandi.blogspot.co.id/2013/10/etika-dalam-bisnis-tugas-1.html











Sabtu, 14 Oktober 2017

Skandal Akuntansi Tak Pandang Bulu

Ringkasan :

Fraud tidak pandang bulu. Perusahaan besar multinasional pun ikut mengalami fraud. Sejak awal triwulan kedua 2017 telah muncul isu terjadinya fraud akuntansi di British Telecom. Tidak tanggung-tanggung, kali ini yang terkena dampaknya adalah Price Waterhouse Coopers (PwC) yang merupakan kantor akuntan publik ternama di dunia dan termasuk the bigfour.
Fraud akuntansi ini gagal dideteksi oleh PwC. Justru fraud berhasil dideteksi oleh pelapor pengaduan (whistleblower) yang dilanjutkan dengan akuntansi forensik oleh KPMG. Modusnya adalah membesarkan penghasilan perusahaan melalui perpanjangan kontrak yang palsu dan invoice-nya serta transaksi yang palsu dengan vendor. Praktik fraud ini sudah terjadi sejak tahun 2013. Dorongan untuk memperoleh bonus (tantiem) menjadi stimulus fraud akuntansi ini. Dampak fraud akuntansi penggelembungan laba ini menyebabkan British Telecom harus menurunkan GBP530 juta dan memotong proyeksi arus kas selama tahun ini sebesar GBP500 juta untuk membayar utang-utang yang disembunyikan (tidak dilaporkan). Tentu saja British Telecom rugi membayar pajak penghasilan atas laba yang sebenarnya tak ada.
Chief Executive Officer British Telecom Gavin Patterson dan Chief Financial Officer Tony Chanmugam dipaksa mengembalikan bonus mereka masing-masing GBP340.000 dan GBP193.000. Beberapa pemegang saham British Telecom segera mengajukan tuntutan kerugian class-action kepada korporasi karena dianggap telah mengelabui investor dan tidak segera mengumumkan fraud keuangan tersebut. di Inggris terdapat lembaga antifraud yaitu Serious Fraud Office (SFO) yang melakukan penegakan hukum atas skandal fraud termasuk fraud oleh atau di korporasi.SFO mengenakan sanksi denda GBP129 juta kepada mantan-mantan eksekutif British Telecomm atas tuduhan fraud ini.

Pendapat :
Kecurangan oleh para mantan eksekutif di British Telecom tentu merupakan kasus yang sangat besar, hal ini bukan karena terjadi pada perusahaan besar melainkan karena mereka telah melanggar kode etik dalam profesi akuntansi. Disini saya mengambil 3 dari 8 pelanggaran kode etik yang dilakukan berdasarkan kode etik akuntan Indonesia yang terdapat dalam buku yang ditulis oleh Mulyadi (2001).

1.     Tanggung Jawab Profesi
Dalam hal ini sangat jelas para eksekutif tidak bertanggung jawab atas profesi yang dia miliki. Para eksekutif yang seharusnya mampu bekerja sama dengan anggota lainnya untuk mengelola keuangan perusahaan serta bertanggung jawab untuk menjaga dan mengembangkan profesi akuntansi justru mengabaikan hal ini dengan melakukan perjanjian kontrak palsu
2.     Integritas
Dalam hal ini integritas berhubungan dengan bersikap jujur dan berterus terang, apakah dalam kasus ini para eksekutif mempunyai integritas? Jelas tidak, seseorang yang ber integritas harus dapat menerima perbedaan pendapat dan tidak dapat mentolerir sebuah kecurangan tetapi yang  mereka lakukan justru sebaliknya, melakukan perjanjian kontrak dan invoice palsu demi mementingkan kepentingan pribadi agar mendapat bonus dan keuntungan yang lebih. Padahal integritas sangat berpengaruh terhadap kepercayaan publik.
3.     Perilaku Profesional
Tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan standar perusahaan serta berbuat kecurangan didalam pekerjaan tentu bukan ciri dari perilaku profesionalitas. Para eksekutif tidak dapat berprilaku konsisten terhadap pekerjaannya, yang tadinya bekerja dengan baik namun ketika terdapat kesempatan untuk mendapat yang lebih mereka mengabaikan kepentingan perusahaan sehingga menurunkan kredibilitas terhadap profesi yang dimiliki.


Dari kasus pelanggaran kode etik diatas bukan hanya para eksekutif yang melakukan kesalahan, hal ini berdampak juga pada kantor auditor yang ditunjuknya yaitu PWC. PWC dianggap tidak melakukan pekerjaan sesuai standar karena tidak dapat menemukan fraud yang dilakukan. Fraud baru tedeteksi oleh kantor auditor yang lain yaitu KPMG. PWC sebagai kantor akuntan public yang ternama tentu saja kehilangan kredibilitasnya sebagai anggota “ Big Four “ kantor akuntan public.


Sumber :

Senin, 23 Januari 2017

THE DIFFERENCES BETWEEN TOEFL, TOEIC, IELTS, and PTE

Ever wonder the difference between the these prominent English tests for university admittance?  The TOEFL, IELTS, TOEIC & the new PTE are the most common English tests administered at this time and prospective test-takers might wonder the differences between them.  Here’s a quick 101 on the differences between each.
  • TOEFL: Otherwise known as the Test of English as a Foreign Language, this exam is currently the most common for non-native English speakers. The TOEFL is often a requirement at most colleges and universities in the U.S., Canada and other English-speaking countries. In addition, government agencies, licensing bodies, businesses or scholarship programs might also require the TOEFL. At this present time, an individual’s TOEFL score is valid for two years and then subject for re-evaluation after the two-year period.
    The TOEFL itself was first administered in 1964 and has been taken by more than 23 million students since then. There are two most common forms of the test, the Internet-based Test (iBT) and paper-based (PBT). The iBT test is comprised of four sections: Reading, Listening, Speaking & Writing. The PBT is made up of four sections, as well: Listening, Structure & Written Expression, Reading Comprehension & Writing. The iBT has a total of 120 points, whereas the PBT ranges between 310-667 points.
  • IELTS: Otherwise known as the International English Language Testing System, the IELTS is administered by the University of Cambridge ESOL Examinations, the British Council & IDP Education. There are two primary versions of the IELTS: the academic version & the general training version. Basically, the academic version is meant for students who want to enroll in universities and other higher education institutions, as well as for medical professions, such as doctors or nurses who need to work or study in an English-speaking country. The general training version is meant for those looking to gain work experience or for purely immigration purposes.
    Similar to the TOEFL, an IELTS score is valid for two years. While both the academic version and the general version differ in terms of content, their structure is the same, dividing the test into three parts: Listening (40 minutes), Reading (60 minutes) and Writing (60 minutes). A brand is given along with a score, ranging form the high score of an “Expert User” to the lowest score of the “Non User.” The top three countries the test is administered in are China, India and Pakistan.
  • PTE: The New Pearson Test of English (PTE) was launched in October 2009. Its main differences from the TOEFL include:
    • automated speech and writing scoring providing consistent and accurate grading
    • score reports offering recorded speech samples to admissions offices at universities worldwide
    • challenging question types including filling blanks, matching items, selecting multiple answer choices in the same question
    • results will be available online in just five days
    • the fee will range from $150-$220, depending on each country
    Similar to the TOEFL test, the Pearson Test of English (PTE) will test in all four sections: reading, writing, listening and speaking.
  • TOEIC: The TOEIC is an acronym for the Test of English for International Communication. As quoted from the TOEIC website: “The TOEIC is an English language test designed specifically to measure the everyday English skills of people working in an international environment.” The point system ranges from 10 to 990 points and the test itself is two hours in length, multiple choice, testing listening comprehension and reading comprehension.
    The TOEIC gives certificates to those who take the test, with different colors differentiating the range of advanced skills. In 2006 a new TOEIC was released with longer reading passages and also British, Australian and New Zealand English-speakers, whereas the previous test only featured American speakers.

Minggu, 22 Januari 2017

Invitation and Offer

Many people find difficult to ascertain offer and invitation to offer (treat), as they use them in one breath, but what makes us puzzled is that Are they same or different? Of course, they are two different terms and must not be regarded as one and the same thing. An offer is a proposal while an invitation to offer is inviting someone to make a proposal. So, you must be clear about these two terms now let’s start understanding the differences between offer and an invitation to offer.

Content: Offer Vs Invitation to Offer (Treat)

  1. Comparison Chart
  2. Definition
  3. Key Differences
  4. Conclusion

Comparison Chart

Basis for ComparisonOfferInvitation to Offer
MeaningWhen one person expresses his will to another person to do or not to do something, to take his approval, is known as an offer.When a person expresses something to another person, to invite him to make an offer, it is known as invitation to offer.
Defined inSection 2 (a) of the Indian Contract Act, 1872.Not Defined
ObjectiveTo enter into contract.To receive offers from people and negotiate the terms on which the contract will be created.
Essential to make an agreementYesNo
ConsequenceThe Offer becomes an agreement when accepted.An Invitation to offer, becomes an offer when responded by the party to whom it is made.

Definition of Offer

An offer is an expression of a person showing his willingness to another person to do or not to do something, to obtain his consent on such expression. The acceptance of the offer by such person may result in a valid contract. An offer must be definite, certain and complete in all respects. It must be communicated to the party to whom it is made. The offer is legally binding on the parties. There are following types of offer:
  • General offer: The type of offer which is made to the public at large.
  • Specific offer: The type of offer made to a particular person.
  • Cross offer: When the parties to the contract accept each other’s offer in ignorance of the original offer, it is known as the cross offer.
  • Counter offer: This is an another type of offer in which the offeree does not accept the original offer, but after modifying the terms and conditions accept it, it is termed as a counter offer.
  • Standing offer: An offer which is made to public as a whole as well as it remains open for a specific period for acceptance it is known as Standing offer.
Example:
  • A tells to B,”I want to sell my motorcycle to you at Rs. 30,000, Will you purchase it?”
  • X says to Y,”I want to purchase your car for Rs. 2,00,000, Will you sell it to me?”

Definition of Invitation to offer (treat)

An Invitation to Offer is an act before an offer, in which one person induces another person to make an offer to him, it is known as invitation to offer. When appropriately responded by the other party, an invitation to offer results in an offer. It is made to the general public with intent to receive offers and negotiate the terms on which the contract is created.
The invitation to offer is made to inform the public, the terms and conditions on which a person is interested in entering into a contract with the other party. Although the former party is not an offeror as he is not making an offer instead, he is stimulating people to offer him. Therefore, the acceptance does not amount to a contract, but an offer. When the former party accepts, the offer made by the other parties, it becomes a contract, which is binding on the parties.
Example:
  • Menu card of a restaurant showing the prices of food items.
  • Railway timetable on which the train timings and fares are shown.
  • Government Tender
  • A Company invites application from public to subscribe for its shares.
  • Recruitment advertisement inviting application.

Key Differences Between Offer and Invitation to Offer (Treat)

The following are the major differences between offer and invitation to offer.
  1. An offer is the final willingness of the party to create legal relations. An invitation to offer is not the final willingness but the interest of the party to invite public to offer him.
  2. An offer is defined in section 2 (a) of the Indian Contract Act, 1872. Conversely, an invitation to offer is not defined in the Indian Contract Act, 1872.
  3. An offer is an essential element to make an agreement between the parties, but an invitation to offer is not an important element until it becomes an offer.
  4. An offer becomes an agreement when accepted. On the other hand, an invitation to offer becomes an offer when the public responds to it.
  5. The main objective of making an offer is to enter into the contract, whereas the main objective of an invitation to offer is to negotiate the terms on which the contract can be made.

Conclusion

Now, you are surely not confused between these two. It is also a characteristic of an offer that it must be distinct from an invitation to offer. An Invitation to offer is a very familiar term as we all have dined in a restaurant where menu cards show the price list of the concerned food items or booked a ticket by viewing the railway timetable. Two most famous examples are pamphlets of pizza’s showing their rates and an auction sale advertisement.
The Offer is quite specific term as it is meant to create legal relations as it is an essential element for making a contract. The ‘intention’ of the party making it, is the fundamental phenomenon that differentiates the two terms.

Showing understanding and giving solution

Showing  understanding and Suggestion solutions is suggest a solution to the problem, in which problems associated with problems or situations are analyzed and possible solutions proposed, together with the expected results / consequences. opinion of the author may be mentioned, directly or indirectly, in the introduction and / or conclusion.
Things to note :
1.       Each paragraph should begin with a topic sentence that summarizes what the paragraph is about.
2.       Precise words and phrases which links should be used to show the relationship between paragraphs and
3.       to connect sentences in a paragraph.
4.       Use the technique is given in the beginning and end of discursive essays.
 
Business Result
Starting at the top one, take turns explaining your situation to your partner and responding to their suggestions about what you should do.
Situation 1
Youve applied for three promotions and didn’t get any because your English isn’t
good enough, but the company hardly ever pays for English courses.
Your company rarely or never advertises jobs internally, and sometimes long after advertising them externally.
Situation 2
Your project manager only gives negative feedback.
Annual appraisals don’t always happen, perhaps because the managers don’t
like doing them.
Some managers have bad communication skills.
Situation 3
You only got one week of training when you first joined the company, and nothing since then.
I can rarely ask my colleagues questions because I am always out visiting customers.
All my projects are very different, so its difficult to be an expert in all those
different things.
Situation 4
People don’t work together as a team. Theres an Employee of the Month award,
but it just makes people more selfish.
All the situations above are actually in one company. Work together to decide how the companys systems should be changed.

Sumber: https://tefltastic.files.wordpress.com/2012/04/showing-understanding-and-suggesting-solutions.pdf