Sabtu, 28 Maret 2015

Dampak Pemilu terhadap Perekonomian Indonesia

Selamat datang kembali di blog saya. Kali ini saya akan membahas sedikit mengenai dampak pemilu 2014 terhadap perekonomian Indonesia. Setiap kali terjadi pemilu di Indonesia, pasti memiliki dampak terhadap berbagai sektor kehidupan di masyarakat Indonesia, terutama masalah ekonomi. Berikut ini saya akan memaparkan salah satu dampak dari pemilu 2014 terhadap ekonomi di Indonesia pada tahun lalu.

Tahun 2014 menjadi tahun yang penting bagi Indonesia. Pelaksanaan pemilu anggota legislatif dan pemilihan presiden akan ikut mewarnai perekonomian Indonesia. Ada yang berpendapat kegiatan lima tahunan itu bisa menumbuhkan optimisme karena Indonesia akan memiliki pemimpin baru. Pasca pemilu, ada potensi kenaikan terjadi pada belanja pemerintah dan investasi. Dari sisi neraca perdagangan, kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan akan membawa dampak positif di 2014, dengan meningkatnya ekspor dan terjaganya impor yang ditopang oleh perdagangan regional di Asia. 

Namun bukan berarti dari dilaksanakannya pemilu tersebut hanya memiliki dampak positifnya saja, tetapi juga ada beberapa dampak negatifnya terutama dalam hal penanaman investasi modal saham di Indonesia. Hal ini dikarenakan, menurut para pemegang saham bergantinya pemimpin di Indonesia maka akan berganti pula kebijakan yang ada sebelumnya. Bergantinya kebijakan pemerintah ini tentu mengurangi investasi dari para penanam modal asing. Para pemodal asing yang khawatir akan asetnya yang diperkirakan akan mengalami fluktuatif di Indonesia pasti memilih untuk tidak berinvestasi atau mencabut asset –asetnya dari Tanah Air untuk sementara waktu sampai keadaan politik di Indonesia sudah stabil. Hal ini menyebabkan capital flight di Indonesia yang akan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional khusunya di sektor riil dan pasar modal. Hal ini terbukti dari respons Investor pasar modal yang negatif terhadap hasil pemilu legislatif.  Indeks Harga Saham Gabungan pada awal perdagangan Kamis 10/4/2014 pagi melorot lebih dari 100 poin ke kisaran level 4.800. Hingga sekitar pukul 09.15 WIB, IHSG anjlok 116,19 poin atau 2,36 persen ke posisi 4.805,21. Tercatat 167 saham turun dan hanya 46 saham yang naik. Adapun nilai transaksi mencapai Rp 2,17 triliun. Saham-saham yang merontokkan indesk pada awal sesi ini diantaranya Summarecon Agung (SMRA) merosot 8,07 persen, Ciputra Development (CTRA) melorot 7,76 persen, Wijaya Karya (WIKA) melemah 7,58 persen, dan Astra International (ASII) terkoreksi 6,54 persen. Terkait IHSG, indeks bisa responsnya bagus di awal perdagangan. Namun bukan mustahil IHSG bisa turun karena market menunggu terbentuknya koalisi antarpartai. Investor akan kembali berpikir logis dan rasional serta fokus atas data ekonomi dan kinerja emiten yang diperkirakan melambat seiring perlambatan PDB tahun ini (sumber : riset MNC securitieas). Lantas bagaimana solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut? Pemerintahan Indonesia saat ini harus mampu menjaga stabilitas ekonominya dan pemerintahan yang baru nanti sebaiknya mempertahankan kebijakan- kebijaka ekonomi jangka panjang misalnya Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP).

Sumber: fmeindonesia.wordpress.com