Penggunaan Metode VaR
(Value at Risk) dalam
Analisis Risiko
Investasi Saham dengan Pendekatan
Generalized Pareto
Distribution (GPD)
I. PENDAHULUAN
Pasar modal merupakan salah satu
alternatif investasi jangka panjang dan sebagai media investasi bagi pemodal.
Tiap investasi antar saham yang dilakukan akan memberikan keuntungan dan risiko
yang berbeda meskipun dalam sektor industri yang sama. Penyebab perbedaan ini adalah faktor internal dan
faktor eksternal. Faktor internal meliputi manajemen, pemasaran, keadaan
keuangan, kualitas produk dan kemampuan bersaing. Faktor eksternal terdiri dari
kebijakan pemerintah, poleksosbudhankam (politik, ekonomi, sosial dan budaya,
pertahanan dan keamanan), pesaing, serta selera dan daya beli masyarakat. Harapan dari investor terhadap investasinya
adalah memperoleh return sebesar-besarnya dengan risiko tertentu.
Risiko merupakan besarnya
penyimpangan antara tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) dengan tingkat pengembalian aktual (actual return). Pengukuran risiko merupakan
hal yang sangat penting berkaitan dengan investasi dana yang cukup besar. Oleh
sebab itu, pengukuran risiko perlu dilakukan agar risiko berada dalam tingkatan
yang terkendali sehingga dapat mengurangi terjadinya kerugian berinvestasi.
Salah satu metode yang berkembang pesat dan sangat populer dipergunakan saat
ini ialah Value at Risk (VaR) yang dipopulerkan oleh J. P. Morgan pada tahun
1994. Data deret waktu keuangan sebagian besar memiliki ekor distribusi yang
gemuk (heavy tailed) yaitu ekor distribusi turun secara lambat bila dibandingkan dengan distribusi normal.
II. METODOLOGI
A. Pengertian
Return suatu saham adalah hasil yang
diperoleh dari investasi dengan cara menghitung selisih harga saham periode
berjalan dengan periode sebelumnya dengan mengabaikan dividen.
B. Statistika Deskriptif
Skewness merupakan derajat letak
simetran atau kejauhan dari simetri suatu distribusi. Jika kurva frekuensi
suatu distribusi mempunyai ekor yang lebih panjang ke kanan, maka distribusi tersebut
mempunyai kemiringan positif. Sebaliknya jika distribusi mempunyai ekor yang
lebih panjang ke kiri, maka mempunyai kemiringan negatif. Nilai skewness dari
distribusi normal adalah nol.
Kurtosis merupakan ukuran
kecenderungan data berada di luar distribusi. Kurtosis dari distribusi normal
adalah 3, artinya jika kurtosis lebih besar dari 3 maka sampel data cenderung
untuk di luar distribusi normal. Jika kurtosis lebih kecil dari 3, sampel data
cenderung berada di dalam lingkupan distribusi normal.
C. Generalized Autoregressive Conditional Heteroskedas-ticity
(GARCH)
GARCH merupakan suatu model yang
dapat digunakan untuk memodelkan data deret waktu bidang finansial yang sangat
tinggi nilai volatilitasnya. Pemodelan GARCH merupakan pengembangan yang dilakukan
oleh Bollerslev pada tahun 1986 dari model
Autoregressive Conditional Heteroskedascity (ARCH) yang diperkenalkan
oleh Engle pada tahun 1982 dan telah berhasil diterapkan pada data keuangan.
Secara umum model GARCH
D. Value at Risk
VaR adalah adalah suatu statistik yang mengukur besar risiko
berdasarkan posisi saat ini. VaR merupakan metode untuk menilai risiko menggunakan
teknik statistik standar yang secara rutin digunakan di bidang teknik lainnya
[11]. VaR merupakan q% quantil dari distribusi nilai total loss, persamaan umum
dari VaR yaitu :risiko berdasarkan posisi saat ini. VaR merupakan metode untuk
menilai risiko menggunakan teknik statistik standar yang secara rutin digunakan
di bidang teknik lainnya. VaR merupakan q% quantil dari distribusi nilai total
loss, persamaan umum
E. Peaks Over Threshold (POT)
Extreme Value Theory (EVT) secara luas digunakan dalam upaya
menaksir terjadinya nilai ekstrem dalam reliabilitas, asuransi, hidrologi,
klimatologi dan ilmu lingkungan. Dalam kaitannya dengan manajemen risiko, EVT
dapat meramalkan terjadinya kejadian ekstrem pada data berekor gemuk yang tidak
dapat dilakukan dengan pendekatan tradisional lainnya. Metode POT merupakan suatu metode EVT yang mengidentifiksikan
nilai ekstrem dengan menggunakan patokan atau threshold (u). Data yang melebihi
nilai threshold akan didentifikasikan sebagai nilai ekstrem. Metode ini mengaplikasikan
teorema Picklands-Dalkema-De Hann yang menyatakan bahwa semakin tinggi threshold, maka distribusinya akan mengikuti
Generalized Distribution Pareto (GPD).
III. HASIL DAN DISKUSI
Data yang digunakan adalah data
sekunder berupa data saham Semen Gresik pada saat closing price bulan Agustus 2007 sampai bulan
Maret 2012. Pemilihan saham pada saat closing price dikarenakan harga penutupan
pada hari ini dijadikan acuan harga pada saat pembukaan pada hari selanjutnya. return saham Semen Gresik memiliki nilai
skewness yang tidak sama dengan nol yaitu -0,47. Nilai skewness yang negatif
menunjukkan bahwa distribusi tersebut miring ke kanan dan memiliki ekor yang
panjang di kiri. Nilai kurtosis lebih besar dari tiga yaitu sebesar 16,27
menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal dan data returncenderung memiliki distribusi tidak normal.
Hal ini juga dapat dilihat pada histogram Gambar 3 yang menunujukkan bentuk
histogram tidak simetris sehingga mengindikasikan data tidak berdistribusi
normal. Besar risiko penanaman saham
pada Semen Gresik adalah sebesar 3,12% rupiah dari aset saat ini. Misalkan aset
saat ini dalah Rp. 1 milyar, maka kemungkinan kerugian minimal sebesar Rp
31.200.000,-. Dengan kata lain dalam kurun waktu 20 hari ke depan terdapat
potensi 1 hari diantaranya, investor akan mengalami kerugian minimal Rp
31.200.000,-.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar